Hari Rabu, 23 November 2011 yang lalu, Adon, sopir yang bekerja pada kami ijin cuti karena adiknya menikah. Saat Adon mengajukan cuti, aku nyegir senang...uhuyyy ini dia kesempatan untukku nyetir sendiri ke kantor. Sudah lama aku bisa nyetir, sekitar 2 tahunan, tapi tidak terasah dengan baik karena tidak pernah pergi jauh-jauh hanya disekitaran Cibubur saja. Aku sampaikan niatku ke Jeff dan Jeff mengiyakan sambil berpesan supaya aku berhati-hati dan lebih banyak mengalah kepada para pengendara mobil yang suka nyerobot dan nggak sabaran. Baiklaahhh....
Aku sengaja berangkat lebih pagi, janjian sama Rita, temen kantor DVL yang tinggal di Cileungsi dan hampir tiap hari nebeng berangkat dan pulang kantor sekitar jam 5:45 di depan Legenda Wisata. Hari itu Rita agak telat akhirnya kami baru berangkat pukul 6 pagi dari Legenda. Aku bilang ke Rita, maklum ya Rit bakal lebih pelan jalannya daripada Adon, hahahahaha...Rita ketawa dan bilang klo aku pasti bisa. Perjalanan pagi menuju ke kantor berjalan dengan mulus, aku senang sekali akhirnya bisa melaju di toll jagorawi dan jorr, aahhh...sesuatu banget deh hihihihi...kami sampai di Talavera sekitar pukul 7:10 pagi. Untuk pertama kali nyetir sendiri, not bad! Parkiran masih kosong dan memang tujuanku berangkat pagi salah satunya adalah masalah parkir. Klo parkiran penuh, aku grogi mau parkir. Klo masih kosong gitu senang sekali, bisa milih posisi paling enak untuk parkir tanpa grogi huehehehehe...
Pulang kantor sorenya, baru sekitar jam 17:10 aku bisa turun dari lantai 8. Keluar dari parkiran mendung gelap bergelayut. Dan begitu kami keluar dari kantor sekitar 50 meter, belum sampai lampu merah Ampera, hujan deras turun. Saat masuk toll jorr 2, hujan semakin deras, langit tampak putih keabu-abuan, kilat menyambar-nyambar dan guntur yang menggelegar memekakkan telinga. Segera aku matikan radio dan lebih berkonsentrasi pada kondisi jalan yang sangat tersendat. Semua kendaraan melaju dengan sangat pelan sekitar 20 - 40km/jam. Jarak pandangku sangat terbatas, lampu segera aku nyalakan, wiper aku set untuk lebih cepat bekerja. Aku yang tadinya masih ngobrol dengan Rita, mendadak terdia. Rita pun juga tampak pucat dengan kilat petir yang terus menyambar dan bahkan beberapa kali berada tepat di depan mobil kami.
Kasian Rita, tampak sungguh pucat dan ketakutan, berkali-kali dia menyebut nama Tuhan dan tertunduk karena takut melihat kilat dan petir yang menyambar-nyambar di depan kami. Badai yang luar biasa ini terus berjalan tanpa henti sampai kami masuk toll jagorawi, bahkan sempat sebentar lebih dasyat sampai aku harus memajukan tubuhku untuk mencoba melihat yang terjadi di luar kaca karena semua tampak kabur. Mata silinderku kupacu untuk bekerja lebih keras demi keselamatan semuanya terutama aku dan Rita yang berada di dalam mobil. Aku lirik persediaan bensin, tinggal 2 garis. Sempat berpikir untuk beristirahat di Rest Area sambil beli bensin dan menanti badai sedikit reda, tapi akhirnya niat itu ku urungkan karena suami Rita sepertinya sudah gelisah menanti Rita sampai di rumah.
Mobil terus kupacu sampai masuk Cibubur kondisi masih deras namun sedikit membaik. Karena sudah sampai Cibubur, aku putuskan untuk lebih baik mengisi bensin dulu di Petronas. Saat kami mengisi bensin di Petronas kami masih melihat bagaimana kilat dan petir terus menyambar dengan sangat dasyat. Aku bilang ke Rita lebih baik aku antar dia sampai rumah saja. Nggak mungkin aku tega menurunkan Rita di pinggir jalan kemudian dia dijemput suaminya naik motor. Duuuhh kondisi hamil dimana dia fisiknya cukup lemah nanti kehujananan, kedinginan, malah berabe semua. Akhirnya Rita pun setuju dan aku langsung melaju menuju Cileungsi.
Pulang dari mengantar Rita aku langsung melajukan mobil ke rumah. Sampai rumah hujan mulai mereda dan aku sangat bahagia dan bangga pada diriku sendiri bahwa pada hari itu aku berhasil mengendarai mobil dengan sangat baik pada saat cuaca buruk. Aaahh...PD ku jadi nambah-nambah! Aku segera memberi kabar ke Jeff mengenai pengalaman hari itu dan Jeff memberikan selamat. Anak-anakpun senang saat aku bercerita soal pengalaman pertama mamanya menyetir dalam badai, hihihihi....
Puji Tuhan, semua keberhasilanku saat itu tetap karena tuntunan dan penyertaan Tuhan Yesus semata. Terima kasih Tuhan Yesus! :-)
Friday, November 25, 2011
Tuesday, November 22, 2011
Skin Care Maintenance
Usia diatas 30 tahun memang masalah kulit meminta perhatian lebih. Dari kecil aku menyadari kalau kulit dan rambutku cenderung kering. Sejak SD aku senang memakai body lotion, mama pun sampai komen aku boros sekali kalau pakai body lotion. Itu semua karena aku merasa kulitku kering dan nggak bisa kencang mulus. Aku lihat kulit sepupuku, Merry, waktu dia liburan ke Salatiga. Dari Merry lah awalnya aku ngeh klo kulitku kering. Merry yang lahir dan besar di Jakarta dengan tingkat kelembapan lebih tinggi komen dengan kulitku yang busik. Ya aku besar di Salatiga, kondisi Salatiga dingin dan kondisi udara lebih kering. Dari situlah aku mulai sebal dengan kulit keringku dan mencoba banyak cara untuk selalu lembab. Makanya aku boros sama body lotion.
Saat aku mendapatkan menstruasi yang pertama di usia 11 tahun, kelas 6 SD, Mama mengajarkan kepadaku banyak hal mengenai kebersihan wanita salah satunya adalah kebersihan kulit. Mamaku jarang jerawatan dan kulitnya mulus. Itu semua bukan karena pemakaian produk perawatan mahal, karena mamaku cuman PNS, dapet uang dari mana? Tapi semua berawal dari rajinnya mama membersihkan wajahnya sehari 2 - 3x dengan susu pembersih dan face tonic merk Viva, masih inget banget. Aku kemudian ikutan mama rajin membersihkan wajah dengan produk perawatan Viva. Sampai SMA aku bebas dari serbuan jerawat, wajahku bersih kinclong karena rajin membersihkan wajah dengan milk cleanser dan face tonic Viva, aku jarang menyabun wajahku karena pemakaian sabun wajah justru membuat kulit wajahku semakin kering. Aku beli sih, sabun bayi yang translucent, tapi makenya jarang-jarang karena setelahnya kulit wajahku terasa kencang dan gatal. Aku mulai rajin juga pake pelembab wajah, kali ini pake produk Sari Ayu + bedaknya Marcs atau Belia dari Martha Tilaar. Untuk merawat kulit tubuh aku rajin mangiran dan luluran sendiri juga pemakain body lotion secara teratur.
Semakin berumur, tinggal di Jakarta yang tingkat polusinya tinggi, bekerja di ruang AC lebih dari 8 jam per hari, membuat kondisi kulit wajah dan tubuhku sudah nggak mempan lagi dengan produk-produk yang sebelumnya biasa aku pakai. Aku menemukan bahwa makin berumur kulitku cenderung makin kering. Kalau pake lulur or mangir tradisional yang kering, kulitku bukannya bagus tapi malah lebih kering. Jadi sering sebelum dioles mangir or lulur aku harus mengolesinya dengan minyak zaitun dulu. Kulit wajahku pun demikian, suka tampak kering dan kusam. Aku jarang pergi facial ke salon. Aku lebih suka pake cara membersihkan wajah sendiri dengan produk yang aku beli dan aku bukan tipe yang suka gonta ganti produk. Aku selalu memilih produk yang affordable oleh kantong dan gampang nyarinya klo habis. Makanya aku nggak pernah kenalan sama produk mahal.
Sampai akhirnya aku sering mengeluh kulitku kusam, nggak berseri...rasanya kok suram banget. Akhirnya saran dari keluarga dan sahabat, aku mulai mencoba mendatangi Natasha Skin Care. Aku pilih Natasha karena menurut beberapa teman, affordable. Betapa shocked nya diriku, kunjungan pertamaku ke Natasha, aku di charge Rp 1,9 juta. Rasanya mo marah sama diri sendiri tapi sudah terlanjur ya sudah saya jalani beberapa perawatan yang mereka sarankan seperti facial, penyinaran dengan ultra red dan juga jet peeling. Aku berkata dalam hati, you'd better be wonderful as I have paid a lot! Kunjungan ke 2 masih saja mahal karena sekitar Rp 900ribu. Kali ini gak pake disinar, cuman facial dan jet peeling, dan pembelian beberapa produk. Ih tapi tetep sebel!
Baru pada kunjungan ke-3 agak bersahabat tapi tetep aja 600rebong. Facial biasa + beli beberapa produk yang sudah habis. Cuman memang bener siy...even suami pun memuji kulit wajahku bagus, terlihat bersih dan sehat, jadi tampak awet muda huhuhuhuuuuu.....
Karena mahal dan juga prosesnya yang cukup lama, aku jadi malas melanjutkan perawatan wajahku di Natasha. Aku banting stir ke produk Oriflame dengan Royal Velvetnya untuk perawatan 35+. Dan ternyata aku cocok! Wah senangnya, beberapa kali aku tanya ke teman-temanku, apakah kulit wajahku sudah terlihat kusam? Mereka bilang baik-baik saja, tetep mulus dan memang aku juga merasakan seperti itu. Cuman sayangnya belakangan Royal Velvet sudah tidak diproduksi lagi oleh Oriflame. Mereka berinovasi dengan 3D Collagen yang katanya lebih bagus. Ya sudah aku ikutin, cuman oh sayang disayang...ternyata 3D Collagen di tolak mentah-mentah oleh kulitku! Kulitku jadi berjerawat dan jerawat batu 3 biji nongol secara menyakitkan! Aku yang terbiasa punya wajah mulus tanpa jerawat jadi emosi jiwa sendiri. Haruskah ku balik lagi ke Natasha untuk membereskan semuanya? Huhuhuhu...kebayang mahalnya kok mualesss...
Tapi ngliat si jerawat batu juga sebel apalagi yang paling gede di pipi sebelah kanan! Piye tho iki???
Sampai detik ini belum memutuskan. Kata hati ingin ngabur ke Natasha cuman gak enak masih anak baru di kantor ini. Klo pun pulang untuk perawatan, nggak bisa di Natasha Cibubur harus ngabur ke Depok. Oh lalala.....macetnya itu lho...mbuh wis, kali ini cuman bisa ngelus-elus si jerawat batu dulu! *sebel.com*
Monday, November 21, 2011
Short Getaway With Sindhi
Saat aku resign dari DHL per tanggal 11 October 2011, aku punya waktu 5 hari sebelum memulai hari-hari baruku di DVL. Hari-hari lowong yang aku miliki dari Rabu - Jumat benar-benar aku pakai untuk "Me time." Mulai dari urusan SIM A, jalan-jalan sampai ketemuan temen lama. 3 hari itu aku happy banget! Rasanya plong...bebas, lepassss!!!
Paling keren adalah di hari Kamis saat aku diajak ngabur ke Puncak sama Sindhi. Rencana ketemuan dan jalan-jalan sama Sindhi sudah lama dipikirkan, namun aku nggak nyangka klo Sindhi akan mengajakku ke arah Puncak. Aku langsung mengiyakan, and all the fun begun!
Di dalam mobil sepanjang perjalanan kami ke Puncak, kami ngobrol puas yang isinya "girly talk" semua. Dari yang sopan baik-baik sampai ngakak lepas nggak tau diri! Wes semua unek-unek yang jumpalitan di kepala bisa keluar semua saat bersama Sindhi. Even though Sindhi is a moslem, she is a very cool moslem! Kami bisa ngomong crossed religions secara terbuka tanpa tersinggung sama sekali dan dengan dasar open minded and trust. Sungguh luar biasa!
First stop over ke Debrasco beli celana pendek. Karena Sindhi ngajakin kita main flying fox di Telaga Warna. Oke lah....mampir ke Debrasco, dan aku beli celana pendek warna merah! Gonjreng dunjreng deh..tapi aku suka warna merahnya, hihihihi...sekalian duduls aja ya biar puas saat ingin membebaskan semua asa yang ada, jiaahh...lebay!
Kami makan siang di Rindu Alam, Puncak Pass. Karena kami datang awal, kami bisa milih the best spot in the restaurant. Ditemani dinginnya udara sejuk pegunungan, aku dan Sindhi melanjutkan obrolan gila yang super seru. Hidangan makan siang kami sungguh sempurna!
Aku memilih sop jamur dan sayuran yang super segar, sedangkan Sindhi sebagai pecinta daging merah lebih memilih sop buntut.
Selesai makan siang kami menemukan wafer yang lain daripada yang lain. Aku beli rasa coklat 2 untuk Ruth dan Jonathan, dan 1 rasa cinnamon untuk diriku sendiri, eh enak juga ternyata!. Jadi kebayang-bayang pingin lagi, sayang cuman beli 1 doang rasa cinnamonnya.
Selesai makan siang di Rindu Alam, kami turun sedikit ke Telaga Warna. Berjalan kaki memasuki kawasan Telaga Warna yang hening, senyap dan view yang luar biasa membuatku jejingkrakan norak. Aku bebas jejeritan meluapkan semua rasa yang bergejolak di dada, tertawa ngakak dan berteriak lantang. Sindhi tertawa geli melihat tingkahku yang norak, tapi kami berdua merasa senang karena semua jadi plonggggg!!!
Sambil menunggu Sindhi sholat, aku duduk-duduk di pinggiran Telaga Warna menikmati kesunyian dan keindahan panorama di sekitar Telaga Warna yang tenang, sederhana dan bersahaja. Beberapa orang terlihat duduk juga menikmati keindahan dan ketenangan sekitar Telaga. Mata keatas melihat hamparan flying fox. No way!!!! Aku kurang percaya dengan sistem pengaman flying fox yang ada, klo aku nyemplung ke dalam Telaga gimana? Ya memang aku bisa berenang, tapi nggak lucu aja, males! Aku bilang ke Sindhi klo aku gak mau mainan flying fox. Dengan tertawa renyah Sindhi kemudian mengajakku ke hutan kecil di ujung Telaga. Disitulah kami mulai meluncurkan segala gejolak sebagai seorang model yang tak tersampaikan karena memang nggak bakat dan wajah jauh jenik, hahahaha....
Dengan gaya suka-suka dan serasa tak peduli dengan sekitar, kami memulai segala kegilaan kami berdua di depan kamera, sungguh sebuah kesintingan yang menggembirakan!
Puas bersinting ria, kami pulang kembali ke Jakarta. Tak henti-hentinya aku mengucapkan terima kasih kepada Sindhi atas ide gilanya main ke Puncak. Sungguh luar biasa pengalaman saat itu dan aku tak akan pernah melupakannya seumur hidupku! Semoga one day, aku bisa mengulang kembali masa-masa itu bersama Sindhi di tempat yang lain yang membuat kami berdua bisa lepas dan menjadi diri sendiri.
Paling keren adalah di hari Kamis saat aku diajak ngabur ke Puncak sama Sindhi. Rencana ketemuan dan jalan-jalan sama Sindhi sudah lama dipikirkan, namun aku nggak nyangka klo Sindhi akan mengajakku ke arah Puncak. Aku langsung mengiyakan, and all the fun begun!
Di dalam mobil sepanjang perjalanan kami ke Puncak, kami ngobrol puas yang isinya "girly talk" semua. Dari yang sopan baik-baik sampai ngakak lepas nggak tau diri! Wes semua unek-unek yang jumpalitan di kepala bisa keluar semua saat bersama Sindhi. Even though Sindhi is a moslem, she is a very cool moslem! Kami bisa ngomong crossed religions secara terbuka tanpa tersinggung sama sekali dan dengan dasar open minded and trust. Sungguh luar biasa!
First stop over ke Debrasco beli celana pendek. Karena Sindhi ngajakin kita main flying fox di Telaga Warna. Oke lah....mampir ke Debrasco, dan aku beli celana pendek warna merah! Gonjreng dunjreng deh..tapi aku suka warna merahnya, hihihihi...sekalian duduls aja ya biar puas saat ingin membebaskan semua asa yang ada, jiaahh...lebay!
Kami makan siang di Rindu Alam, Puncak Pass. Karena kami datang awal, kami bisa milih the best spot in the restaurant. Ditemani dinginnya udara sejuk pegunungan, aku dan Sindhi melanjutkan obrolan gila yang super seru. Hidangan makan siang kami sungguh sempurna!
Aku memilih sop jamur dan sayuran yang super segar, sedangkan Sindhi sebagai pecinta daging merah lebih memilih sop buntut.
Selesai makan siang kami menemukan wafer yang lain daripada yang lain. Aku beli rasa coklat 2 untuk Ruth dan Jonathan, dan 1 rasa cinnamon untuk diriku sendiri, eh enak juga ternyata!. Jadi kebayang-bayang pingin lagi, sayang cuman beli 1 doang rasa cinnamonnya.
Selesai makan siang di Rindu Alam, kami turun sedikit ke Telaga Warna. Berjalan kaki memasuki kawasan Telaga Warna yang hening, senyap dan view yang luar biasa membuatku jejingkrakan norak. Aku bebas jejeritan meluapkan semua rasa yang bergejolak di dada, tertawa ngakak dan berteriak lantang. Sindhi tertawa geli melihat tingkahku yang norak, tapi kami berdua merasa senang karena semua jadi plonggggg!!!
Sambil menunggu Sindhi sholat, aku duduk-duduk di pinggiran Telaga Warna menikmati kesunyian dan keindahan panorama di sekitar Telaga Warna yang tenang, sederhana dan bersahaja. Beberapa orang terlihat duduk juga menikmati keindahan dan ketenangan sekitar Telaga. Mata keatas melihat hamparan flying fox. No way!!!! Aku kurang percaya dengan sistem pengaman flying fox yang ada, klo aku nyemplung ke dalam Telaga gimana? Ya memang aku bisa berenang, tapi nggak lucu aja, males! Aku bilang ke Sindhi klo aku gak mau mainan flying fox. Dengan tertawa renyah Sindhi kemudian mengajakku ke hutan kecil di ujung Telaga. Disitulah kami mulai meluncurkan segala gejolak sebagai seorang model yang tak tersampaikan karena memang nggak bakat dan wajah jauh jenik, hahahaha....
Dengan gaya suka-suka dan serasa tak peduli dengan sekitar, kami memulai segala kegilaan kami berdua di depan kamera, sungguh sebuah kesintingan yang menggembirakan!
Puas bersinting ria, kami pulang kembali ke Jakarta. Tak henti-hentinya aku mengucapkan terima kasih kepada Sindhi atas ide gilanya main ke Puncak. Sungguh luar biasa pengalaman saat itu dan aku tak akan pernah melupakannya seumur hidupku! Semoga one day, aku bisa mengulang kembali masa-masa itu bersama Sindhi di tempat yang lain yang membuat kami berdua bisa lepas dan menjadi diri sendiri.
Akhir Pekan
Kehidupan akhir pekan ku saat ini sudah buanyak sekali mengalami perubahan. Dan perubahan itu cukup drastis. Saat-saat awal rasanya agak gimana gituh, tapi sekarang ini kami sekeluarga justru sangat menikmati akhir pekanyang kami miliki. Ya cara menikmati akhir pekan yang kami lakukan belakangan, terutama 6 bulan terakhir ini menurut kami adalah yang terbaik!
Dulu waktu aku kecil, aku nggak pernah merasakan begitu banyaknya perbedaan antara hari sekolah dan liburan akhir pekan. Sama aja, flaattt....mungkin karena aku tinggal di kota kecil, dan kehidupan di kota tersebut yang sederhana membuat ya memang kehidupan akhir pekan itu seperti itu saja. Akhir pekan lebih ke istirahat di rumah, bersih-bersih rumah, kerja bakti di lingkungan tempat tinggal, dll. Juarang sekali kami pergi-pergi apalagi ke luar kota. Duuhh...paling setaun sekali atau dua kali saja karena memang ongkos ke luar kota itu lumayan banyak untuk orang tuaku yang PNS, disamping itu kami tidak pernah punya mobil. Jadi kemana-mana harus naik angkutan umum. Jadilah kami lebih senang menghabiskan waktu di rumah saat akhir pekan, beres-beres, eksperimen masak memasak di dapur, atau tidurrr....hehehehe....Diapelin atau pacaran? ehm....unfortunately aku nggak punya pacara sampai lulus kuliah, jadi blum pernah mengalami pacaran or diapelin di akhir pekan, huehehehehe....
Setelah lulus kuliah dan merantau ke Jakarta, kehidupan akhir pekan itu sedikit bergeser. Saat tinggal bersama Budhe di Pondok Bambu, aku mengisi akhir pekanku dengan "nyalon" bersama kakak sepupu atau main ke rumah temen kuliah. Bekas temen kuliah ada yang mulai pendekatan dan ngapel or mengajak ke gereja bersama, hahahaha....ya seiring waktu mulai ada pergeseran dan perubahan pola hidup saat weekend. Kemudian dari rumah Budhe di Pondok Bambu, aku pindah ke Penggilingan, tinggal bersama teman gereja. Akhir pekanku semenjak itu langsung berubah drastis. Aku bisa menghabiskan akhir pekanku di gereja dengan segudang kegiatan pelayanan. Aku sangat menikmatinya. Sabtu pagi setelah beres-beres dengan setumpuk cucian pakaian, beberes rumah bersama Yaya, aku langsung melejit ke Gereja untuk persiapan pelayanan hari Minggu, sempat ikut les keyboard, latihan Vocal Group, dan sorenya lanjut nge mall bersama Yaya atau teman-teman gereja yang lain. Minggu paginya ke gereja dan terus berlanjut sampai sore karena kami ada kegiatan Persekutuan Pemuda.
Hal itu terus bergulir sampai dengan aku bertemu Jeffry, pacaran kemudian ngekos di Pejompongan. Kehidupan akhir pekanku kembali berubah karena sudah resmi jadi pacar Jeffry. Akhirnya aku ngerasain bagaimana rasanya diapelin di akhir pekan, huahahahahaha....Bersama Jeffry, aku masih terus melanjutkan pelayananku. Kalau dulu berangkat pelayanan naik angkutan umum sendiri, sekarang ada yang nemenin naik metromini, kopaja dan angkot. Pulang pelayanan dan ibadah di gereja mampir ke mall untuk sekedar makan atau liat-liat. Yaa...seperti ada yang kurang, aku tetaplah gadis yang besar di Karang Alit, yang nggak suka ngemall. Buatku tiap akhir pekan ngemall adalah wasting time! Sulit bagi kami berdua untuk bisa pacaran di akhir pekan dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Kendalanya adalah kami tidak mempunya motor atau mobil. Pernah sesekali diajak teman untuk double date ke Puncak, ya itupun juaraaanggg...kecuali saat liburan bersama pulang ke Salatiga, baru kami bisa menikmati liburan dengan jalan-jalan ke sawah, gunung, naik motor pinjeman dari Tante Uling hihihihihi....
Menjelang rencana menikah, kehidupan akhir pekan sedikit berubah dengan cara hunting rumah, dan pernak pernik persiapan pernikahan. Isinya sibukkk aja tiap akhir pekan dengan segabruk rencana dan kegiatan. Dan setelah menikah, kehidupan akhir pekanku kembali ke masa mall to mall... Aku suka males setiap kali Jeffry bertanya, "Sabtu ini mau kemana?". Karena memang bener-bener I had no idea! Setelah menikahpun kami nggak punya kendaraan pribadi sendiri, even motor. Kemana-mana naik angkutan umum dan kalo jalan jauh-jauh sampai ke luar Jakarta naik angkutan umum hanya untuk satu weekend kadang males. Jadi lagi-lagi mall, atau ngurung di kamar kos aja seharian, nonton DVD trus malam baru kami keluar hanya sekedar mencari makan malam.
Dalam kondisi hamil, kehidupan akhir pekan perlahan berubah. Karena hampir di setiap akhir pekan, kami jalan-jalan nyari rumah kontrakan atau pergi ke dokter kandungan untuk periksa kondisi kandunganku. Dan setelah anak pertama lahir, tak lama kemudian Tuhan juga memberikan kami berkat-Nya dengan sebuah mobil Xenia. Aaaahhhh.....sungguh bersyukur akhirnya punya mobil. Dengan adanya mobil tersebut akhirnya kehidupan akhir pekan kami menjadi lebih berwarna.
Saat ini anak-anak sudah makin besar, dan kehidupan akhir pekan yang tadinya penuh dengan acara jalan-jalan dari satu mall ke mall lain, atau berenang, atau ke tempat wisata, perlahan berubah kembali. Kami berpikir bahwa anak-anak harus mempunyai kegiatan yang bermanfaat setiap akhir pekan. Nggak melulu isinya jalan-jalan tanpa tujuan. Akhirnya Ruth dan Jo mulai join dengan latihan ensamble di Gereja setiap hari Sabtu pagi dan belakangan berlanjut dengan les matematika di Enopi sampai jam 12 siang. Dengan kegiatan di hari Sabtu mulai pagi sampai tengah hari yang padat, akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk tidak mengisi tambahan akhir pekan kami dengan kegiatan keluar dari rumah lagi. Siang hari lebih banyak kami pergunakan untuk mengobrol, tidur siang dan menikmati film DVD bersama di rumah. Sesekali, pergi berenang itupun masih di dalam kompleks. Beberapa kali saat kami keluar sebentar ke Citragrand or Kota Wisata, kami lihat traffic di Jl. Transyogi Cibubur yang "luar biasa." Anak-anak bahkan lama kelamaan nurun ortunya, nggak suka berada di tengah-tengah kemacetan. Jadi tiap kali mau pergi kami mikir dulu, worth nggak ya ini? Toh cuman ke mall doang, beli sesuatu yang nggak penting-penting amat.
Akhirnya, sejak 6 bulan yang lalu kami mengemas akhir pekan kami dengan jauh lebih simple seperti ini; Hari Sabtu pagi, sarapan ketoprak/bubur ayam/nasi kuning, lanjut anter anak-anak latihan ensamble di gereja dan les matematika di Enopi, tengah hari pulang, makan siang di rumah lanjut dengan ngobrol bersama dan tidur siang. Sore kalau pengen berenang ya dekat-dekat saja di wilayah Cibubur atau malam kami keluar untuk makan malam di Kota Wisata, 2 kali sempat ngabur jam 10 malam ke Bogor, jalanan sepi....Minggu pagi ke gereja, pulang gereja di rumah tiduran...sore persiapan sekolah anak-anak. Malam tenang saja di rumah atau lari ke Kota Wisata sebentar untuk makan malam. Segala keperluan sekolah dan sehari-hari coba kami penuhi di sekitar Legenda Wisata saja. Dan so far kami happy dengan pola ini. Gak mumet sama segala kepenatan macet, klo memang harus ke Jakarta hanya saat tertentu bila ada undangan pernikahan penting atau yang lain. Tapi kalau kami rasa masih bisa pamit ya pamit aja...kami lebih menikmati ngendon di sekitar rumah. Sounds egois dan nggak mau gaul? Ehm...terserah komennya, yang penting akhir pekan benar-benar kami lakukan untuk istirahat dan mempunya waktu yang berkualitas dengan anak-anak. And as a family, we are happy with it! ;-)
Dulu waktu aku kecil, aku nggak pernah merasakan begitu banyaknya perbedaan antara hari sekolah dan liburan akhir pekan. Sama aja, flaattt....mungkin karena aku tinggal di kota kecil, dan kehidupan di kota tersebut yang sederhana membuat ya memang kehidupan akhir pekan itu seperti itu saja. Akhir pekan lebih ke istirahat di rumah, bersih-bersih rumah, kerja bakti di lingkungan tempat tinggal, dll. Juarang sekali kami pergi-pergi apalagi ke luar kota. Duuhh...paling setaun sekali atau dua kali saja karena memang ongkos ke luar kota itu lumayan banyak untuk orang tuaku yang PNS, disamping itu kami tidak pernah punya mobil. Jadi kemana-mana harus naik angkutan umum. Jadilah kami lebih senang menghabiskan waktu di rumah saat akhir pekan, beres-beres, eksperimen masak memasak di dapur, atau tidurrr....hehehehe....Diapelin atau pacaran? ehm....unfortunately aku nggak punya pacara sampai lulus kuliah, jadi blum pernah mengalami pacaran or diapelin di akhir pekan, huehehehehe....
Setelah lulus kuliah dan merantau ke Jakarta, kehidupan akhir pekan itu sedikit bergeser. Saat tinggal bersama Budhe di Pondok Bambu, aku mengisi akhir pekanku dengan "nyalon" bersama kakak sepupu atau main ke rumah temen kuliah. Bekas temen kuliah ada yang mulai pendekatan dan ngapel or mengajak ke gereja bersama, hahahaha....ya seiring waktu mulai ada pergeseran dan perubahan pola hidup saat weekend. Kemudian dari rumah Budhe di Pondok Bambu, aku pindah ke Penggilingan, tinggal bersama teman gereja. Akhir pekanku semenjak itu langsung berubah drastis. Aku bisa menghabiskan akhir pekanku di gereja dengan segudang kegiatan pelayanan. Aku sangat menikmatinya. Sabtu pagi setelah beres-beres dengan setumpuk cucian pakaian, beberes rumah bersama Yaya, aku langsung melejit ke Gereja untuk persiapan pelayanan hari Minggu, sempat ikut les keyboard, latihan Vocal Group, dan sorenya lanjut nge mall bersama Yaya atau teman-teman gereja yang lain. Minggu paginya ke gereja dan terus berlanjut sampai sore karena kami ada kegiatan Persekutuan Pemuda.
Hal itu terus bergulir sampai dengan aku bertemu Jeffry, pacaran kemudian ngekos di Pejompongan. Kehidupan akhir pekanku kembali berubah karena sudah resmi jadi pacar Jeffry. Akhirnya aku ngerasain bagaimana rasanya diapelin di akhir pekan, huahahahahaha....Bersama Jeffry, aku masih terus melanjutkan pelayananku. Kalau dulu berangkat pelayanan naik angkutan umum sendiri, sekarang ada yang nemenin naik metromini, kopaja dan angkot. Pulang pelayanan dan ibadah di gereja mampir ke mall untuk sekedar makan atau liat-liat. Yaa...seperti ada yang kurang, aku tetaplah gadis yang besar di Karang Alit, yang nggak suka ngemall. Buatku tiap akhir pekan ngemall adalah wasting time! Sulit bagi kami berdua untuk bisa pacaran di akhir pekan dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Kendalanya adalah kami tidak mempunya motor atau mobil. Pernah sesekali diajak teman untuk double date ke Puncak, ya itupun juaraaanggg...kecuali saat liburan bersama pulang ke Salatiga, baru kami bisa menikmati liburan dengan jalan-jalan ke sawah, gunung, naik motor pinjeman dari Tante Uling hihihihihi....
Menjelang rencana menikah, kehidupan akhir pekan sedikit berubah dengan cara hunting rumah, dan pernak pernik persiapan pernikahan. Isinya sibukkk aja tiap akhir pekan dengan segabruk rencana dan kegiatan. Dan setelah menikah, kehidupan akhir pekanku kembali ke masa mall to mall... Aku suka males setiap kali Jeffry bertanya, "Sabtu ini mau kemana?". Karena memang bener-bener I had no idea! Setelah menikahpun kami nggak punya kendaraan pribadi sendiri, even motor. Kemana-mana naik angkutan umum dan kalo jalan jauh-jauh sampai ke luar Jakarta naik angkutan umum hanya untuk satu weekend kadang males. Jadi lagi-lagi mall, atau ngurung di kamar kos aja seharian, nonton DVD trus malam baru kami keluar hanya sekedar mencari makan malam.
Dalam kondisi hamil, kehidupan akhir pekan perlahan berubah. Karena hampir di setiap akhir pekan, kami jalan-jalan nyari rumah kontrakan atau pergi ke dokter kandungan untuk periksa kondisi kandunganku. Dan setelah anak pertama lahir, tak lama kemudian Tuhan juga memberikan kami berkat-Nya dengan sebuah mobil Xenia. Aaaahhhh.....sungguh bersyukur akhirnya punya mobil. Dengan adanya mobil tersebut akhirnya kehidupan akhir pekan kami menjadi lebih berwarna.
Saat ini anak-anak sudah makin besar, dan kehidupan akhir pekan yang tadinya penuh dengan acara jalan-jalan dari satu mall ke mall lain, atau berenang, atau ke tempat wisata, perlahan berubah kembali. Kami berpikir bahwa anak-anak harus mempunyai kegiatan yang bermanfaat setiap akhir pekan. Nggak melulu isinya jalan-jalan tanpa tujuan. Akhirnya Ruth dan Jo mulai join dengan latihan ensamble di Gereja setiap hari Sabtu pagi dan belakangan berlanjut dengan les matematika di Enopi sampai jam 12 siang. Dengan kegiatan di hari Sabtu mulai pagi sampai tengah hari yang padat, akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk tidak mengisi tambahan akhir pekan kami dengan kegiatan keluar dari rumah lagi. Siang hari lebih banyak kami pergunakan untuk mengobrol, tidur siang dan menikmati film DVD bersama di rumah. Sesekali, pergi berenang itupun masih di dalam kompleks. Beberapa kali saat kami keluar sebentar ke Citragrand or Kota Wisata, kami lihat traffic di Jl. Transyogi Cibubur yang "luar biasa." Anak-anak bahkan lama kelamaan nurun ortunya, nggak suka berada di tengah-tengah kemacetan. Jadi tiap kali mau pergi kami mikir dulu, worth nggak ya ini? Toh cuman ke mall doang, beli sesuatu yang nggak penting-penting amat.
Akhirnya, sejak 6 bulan yang lalu kami mengemas akhir pekan kami dengan jauh lebih simple seperti ini; Hari Sabtu pagi, sarapan ketoprak/bubur ayam/nasi kuning, lanjut anter anak-anak latihan ensamble di gereja dan les matematika di Enopi, tengah hari pulang, makan siang di rumah lanjut dengan ngobrol bersama dan tidur siang. Sore kalau pengen berenang ya dekat-dekat saja di wilayah Cibubur atau malam kami keluar untuk makan malam di Kota Wisata, 2 kali sempat ngabur jam 10 malam ke Bogor, jalanan sepi....Minggu pagi ke gereja, pulang gereja di rumah tiduran...sore persiapan sekolah anak-anak. Malam tenang saja di rumah atau lari ke Kota Wisata sebentar untuk makan malam. Segala keperluan sekolah dan sehari-hari coba kami penuhi di sekitar Legenda Wisata saja. Dan so far kami happy dengan pola ini. Gak mumet sama segala kepenatan macet, klo memang harus ke Jakarta hanya saat tertentu bila ada undangan pernikahan penting atau yang lain. Tapi kalau kami rasa masih bisa pamit ya pamit aja...kami lebih menikmati ngendon di sekitar rumah. Sounds egois dan nggak mau gaul? Ehm...terserah komennya, yang penting akhir pekan benar-benar kami lakukan untuk istirahat dan mempunya waktu yang berkualitas dengan anak-anak. And as a family, we are happy with it! ;-)
Friday, November 18, 2011
Hobby Yang Tertunda
Aku memiliki sebuah hobby yang tertunda, photography. Saat keinginan dalam hati untuk belajar photography begitu membuncah, akhirnya passion itu membawaku bertemu dengan Darwis Triadi dan belajar Basic Photography di sekolah photography yang dia dirikan. Banyak hal yang aku pelajari dan waktu terus berjalan, ternyata hobby satu ini muaahhaaalll!....dan akhirnya dengan banyak pertimbangan, perlahan aku mulai meninggalkan hobby ini. Yup, aku banting stir ke baking. Sesuatu yang memang aku senangi semenjak aku di bangku SMA dan tentunya lagi, ada duitnya lho ternyata :-))
Terkadang keinginan memotret itu masih ada. Cuman klo lihat bekalku EOS 350D dengan lensa standard, suka males hehehehe....I need a new lens badly! Dan sampai saat ini masih tertunda terus. Maklum otak emak-emak, kebanyakan mikir matematikanya hahahahaha......
Semua guru photography yang aku temui selalu mengatakan, yang bikin foto itu berbicara dengan indah, bukan tools nya. Semuanya itu the man behind the gun! Dan dari hasil analisa akhir pada saat submit portfolio, suhu photographer menyatakan bahwa aku punya instuisi pada sisi humanis photography dan memintaku untuk mengembangkannya disitu. Ehm...mungkin ada benarnya ya...karena aku macet tiap kali harus memotret benda mati.
Ini adalah salah satu photo yang dikomen: "Memotret dengan hati" dan dapet cletukan seru dari temen sekelas, "Ya iyalaahh....anaknya sendiri!" hahahahaa....tapi kemudian sang suhu menyampaikan. "Bukan begitu, bisa saja anda memotret istri/suami/anak/kekasih/orang tua...tapi buat mata seorang photographer berpengalaman akan terlihat mana yang memotret dengan hati dan mana yang tidak. Ini salah satu contoh baik bahwa yang memotret object ini, memotret dengan hati, ada intuisi dalam dirinya. Bagaimana pendapat anda? xixixixi.....aku lupa nama suhuku ini. Tapi dia adalah suhu di bidang human photography, salah satu kelas yang aku ikuti.
Lalu bagaimana dengan hasil jepretan photo benda mati or landscape? Itu photo yang aku pajang di blog sebagai border dari blog ini adalah salah satu jepretan landscape hasil karyaku. Kata yang suka jepret landscape hasilnya lumayan tapi kurang dramatis, harus lebih diasah lagi. Setuju!
Potret makanan hasil baking, ehm...menurutku belum ada yang memuaskan. Entahlah passion motret makanannya belum kena. Mungkin karena aku juga belum menjadi food stylist yang baik? Bisa jadi! Harus lebih diasah lagi.
Ya, menunda suatu hobby bukan harus berarti anda meninggalkannya 100%. Sekali lagi, dalam hidup ini kadang kita harus berani berkompromi dengan keadaan. Tetap semangat!
Thursday, November 17, 2011
30 April 2011
Salah satu high light di tahun 2011. Tanggal yang bersejarah bagi keluarga kami. Karena pada tanggal 30 April 2011 kami resmi pindah rumah dari rumah mungil yang kami cintai di Perumahan Taman Kenari Nusantara ke Perumahan Legenda Wisata yang masih tetanggaan di Cibubur. Namun setelah di cek lagi ternyata sudah beda kelurahan. Kalau Taman Kenari Nusantara masuk Kelurahan Nagrak, Legenda Wisata masuk Kelurahan Wanaherang. Alasan kepindahan rumah kami karena sekolah anak-anak. Kami ingin anak-anak lebih dekat ke sekolah mereka di Sekolah Kristen Ketapang 3 (SKK 3).
Saat meninggalkan rumah kami di Cluster Pasundan, Taman Kenari Nusantara, ada rasa sedih yang menyergap. Di rumah itu kami sebagai keluarga utuh bersatu setelah selama 3 tahun ngontrak di Pasar Minggu. Kami dandani rumah mungil itu dengan penuh kasih mulai dari bikin teras dan juga car port. Kami sangat cinta dengan teras rumah dan merasa sangat kehilangan. Pohon mangga di depan rumah juga salah satu yang bikin berat. Pohon mangga itu ditanam oleh Akung dari biji. Bisa tumbuh dengan subur dan sebentar lagi berbuah. Sayang kami tidak bisa menikmati buahnya. Banyak pergumulan emosi di rumah ini dan sampai sekarangpun kami masih suka kangen dengan rumah kami di Taman Kenari Nusantara. Anak-anak pun kangen dengan teman-teman mereka dan keberadaan warung yang dekat rumah yang memudahkan segalanya untuk jajan, hahahahaha....cuman malesnya, sering banget mati listrik!
Hampir selama 2 tahun aku dan Jeff berpikiran untuk pindah rumah. Jalan Transyogi Cibubur semakin macet. Kami melihat bagaimana Ruth dan Jo harus bangun pagi sekali untuk dijemput pukul 6 pagi ke sekolah mereka di Legenda Wisata yang hanya berjarak 3km, beneran selemparan batu doang, karena kami bisa melihat sekolah mereka dari belakang Cluster Pasundan. Menjelang akhir tahun 2010 kami semakin giat mencari rumah dan diputuskan kalau kami akan tinggal di Legenda Wisata. Kami berusaha mencari Cluster terdekat ke SKK 3. Setelah beberapa kali visits ke beberapa rumah yang ditawarkan, akhirnya pilihan kami jatuh kepada rumah di Cluster Cleopatra. Tidak terlalu jauh dari Sekolah, mungkin hanya 3 menit dengan mobil or 10 menit berjalan kaki.
Rumah baru kami terletak di hook dengan halaman rumput yang luas. Jeffry sangat mencintai halaman rumput ini seperti istri keduanya hahahaha...Jonathan bisa puas bermain bola disini, bahkan kami sekeluargapun sering duduk-duduk di halaman rumput ini di sore hari, menikmati semilirnya angin dan indahnya sunset.
Sudah 6 bulan kami pindah ke rumah baru kami dan perlahan kami mulai bisa meninggalkan semua rasa sakit dari keputusan meninggalkan rumah lama di Taman Kenari Nusantara. Setiap hari, semakin kami menikmati dan mencintai rumah baru kami. Anak-anak sudah semakin terbiasa tinggal di lingkungan baru dan menikmati bagaimana mereka bisa bangun sedikit siang, nggak harus pagi-pagi sekali untuk persiapan berangkat ke sekolah. Akupun nggak pernah bosan mengucap syukur setiap kali melewati hamparan pinus dan cemara di sepanjang boulevard Napoleon hingga ke Rembrant. Sungguh indah, hijau, tenang dan menyejukkan, mengingatkan aku akan kampung halaman di Salatiga :-)
Saat meninggalkan rumah kami di Cluster Pasundan, Taman Kenari Nusantara, ada rasa sedih yang menyergap. Di rumah itu kami sebagai keluarga utuh bersatu setelah selama 3 tahun ngontrak di Pasar Minggu. Kami dandani rumah mungil itu dengan penuh kasih mulai dari bikin teras dan juga car port. Kami sangat cinta dengan teras rumah dan merasa sangat kehilangan. Pohon mangga di depan rumah juga salah satu yang bikin berat. Pohon mangga itu ditanam oleh Akung dari biji. Bisa tumbuh dengan subur dan sebentar lagi berbuah. Sayang kami tidak bisa menikmati buahnya. Banyak pergumulan emosi di rumah ini dan sampai sekarangpun kami masih suka kangen dengan rumah kami di Taman Kenari Nusantara. Anak-anak pun kangen dengan teman-teman mereka dan keberadaan warung yang dekat rumah yang memudahkan segalanya untuk jajan, hahahahaha....cuman malesnya, sering banget mati listrik!
Hampir selama 2 tahun aku dan Jeff berpikiran untuk pindah rumah. Jalan Transyogi Cibubur semakin macet. Kami melihat bagaimana Ruth dan Jo harus bangun pagi sekali untuk dijemput pukul 6 pagi ke sekolah mereka di Legenda Wisata yang hanya berjarak 3km, beneran selemparan batu doang, karena kami bisa melihat sekolah mereka dari belakang Cluster Pasundan. Menjelang akhir tahun 2010 kami semakin giat mencari rumah dan diputuskan kalau kami akan tinggal di Legenda Wisata. Kami berusaha mencari Cluster terdekat ke SKK 3. Setelah beberapa kali visits ke beberapa rumah yang ditawarkan, akhirnya pilihan kami jatuh kepada rumah di Cluster Cleopatra. Tidak terlalu jauh dari Sekolah, mungkin hanya 3 menit dengan mobil or 10 menit berjalan kaki.
Rumah baru kami terletak di hook dengan halaman rumput yang luas. Jeffry sangat mencintai halaman rumput ini seperti istri keduanya hahahaha...Jonathan bisa puas bermain bola disini, bahkan kami sekeluargapun sering duduk-duduk di halaman rumput ini di sore hari, menikmati semilirnya angin dan indahnya sunset.
Sudah 6 bulan kami pindah ke rumah baru kami dan perlahan kami mulai bisa meninggalkan semua rasa sakit dari keputusan meninggalkan rumah lama di Taman Kenari Nusantara. Setiap hari, semakin kami menikmati dan mencintai rumah baru kami. Anak-anak sudah semakin terbiasa tinggal di lingkungan baru dan menikmati bagaimana mereka bisa bangun sedikit siang, nggak harus pagi-pagi sekali untuk persiapan berangkat ke sekolah. Akupun nggak pernah bosan mengucap syukur setiap kali melewati hamparan pinus dan cemara di sepanjang boulevard Napoleon hingga ke Rembrant. Sungguh indah, hijau, tenang dan menyejukkan, mengingatkan aku akan kampung halaman di Salatiga :-)
Girl Friendship
Kebutuhanku akan girl friendship dari kecil sudah cukup tinggi karena aku selalu merasa sendiri di rumah. Aku nggak punya saudara perempuan. Aku anak perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara. Jarak yang terlalu dekat antara aku dan Mas Seno membuat aku sering merasa seperti tidak punya kakak, karena kami berdua lebih mirip seperti "musuh" saingan, ribut melulu...baiknya baru belakangan ini setelah sama-sama sudah berumur hahahahaha....*peace ya Mas!* Aku lebih dekat ke Wisnu, adikku, karena kami selisih 3 tahun jadi ada perasaan bangga pada diriku sendiri dengan posisi sebagai kakak. Apalagi Wisnu adalah adik yang sangat baik, terbaik yang aku miliki, sampai detik ini! Kalau mau buka-bukaan jujur, aku dan Mas Seno pun mengakui bahwa diantara kami ber-3 Wisnu adalah anak yang paling toobbb!! (pake B saking manteebbb nya hihihihi....).
Anyway, sekarang back to girl friendship...bahasan mengenai sibblings mungkin akan dituangkan di tulisan yang lain. Aku merasa nyaman mempunya sahabat cewek yang dekat, bahkan sampai bisa dibilang posesif. Kalau melihat mereka dekat dengan teman yang lain, jujur ada rasa cemburu dan left behind. Aku gak pernah mau diduakan, aku mau teman dekat cewekku hanya ada untukku setiap saat dan setiap waktu. Egoisme masa muda yang sungguh amat sangat keterlaluan!, siapa aku? hehehehe....sekarang klo inget hal itu tepok jidat sendiri, alamak...buruk kali diri ini!
Perasaan sakit hati karena melihat sahabat wanitaku main atau dekat dengan teman wanita yang lain membuat aku menjadi sosok yang diam-diam suka menulis. Ya, masa mudaku akan aku habiskan untuk menulis diary berlembar-lembar secara lebay, itu semua curahan gejolak anak ABG belasan tahun. Flash back ke belakang membuatku tersenyum malu sendiri tapi kemudian bersyukur bahwa semua yang aku alami dimasa lalu itulah yang membentuk aku hingga hari ini.
Ada beberapa nama yang dekat denganku sejak aku kecil tinggal di Karang Alit, Salatiga. Aku lebih mengingat masa kecilku di Salatiga dengan baik daripada saat tinggal di Kalioso. Mungkin karena aku masih TK dan terlalu kecil saat itu. Tapi memoir Kalioso tetap perlu dan penting diingat, bahkan suatu saat aku pun ingin menuliskannya.
Sebutlah Rini, Dyah, Dewi Kartika Sari, Ciciek, Okta dan Nana. Mereka adalah nama-nama teman mainku dari kecil di Karang Alit. Yang paling sering aku ajak curhatan sampai aku kerja adalah Nana. Nana sudah aku anggap seperti adik sendiri. Kami sudah jarang bertemu tetapi hubungan secara rutin via FB dan sms terus berjalan. Dengan Rini, kami connected lagi secara baik justru setelah kami berdua sama-sama bekerja, menikah dan punya anak. Dengan Dyah, juga kami tetap berhubungan baik dan rutin sampai dengan hari ini. Hanya dengan Dewi Kartika Sari, Cicik dan Okta yang serasa semakin kabur. Walaupun dengan Okta mungkin akan lebih mudah dijalin kembali karena Okta saat ini masih tinggal di Karang Alit, Salatiga.
Saat SD, aku punya teman cewek yang akrab, Andri, Arminah dan Titik. Ketiganya raib bagaikan ditelan bumi. Aku masih bertemu Arminah sekali saat aku belum menikah dan liburan ke Salatiga. Saat itu Arminah sudah menikah dan punya 2 orang anak. Andri, menurut Bapak, sudah menikah dan punya anak juga. Bapak pernah bertemu Andri saat dia sedang menjemput anaknya pulang dari sekolah. Andri masih tinggal di Salatiga. Dengan Titik, entahlah aku tidak tau dimana dia sekarang. Kadang aku kangen dengan Titik. Usai lulus SD, kami berpisah SMP. Aku di SMPN 1 dan Titik di SMPN3. Dia hanya bersekolah di SMPN 3 selama setahun karena kemudian pindah ke Tegal berkenaan dengan ayahnya yang anggota TNI dipindah tugaskan ke Tegal. Aku dan Titik masih sering berkirim surat, namun setelah kami lulus SMP, surat-surat itupun terputus sampai dengan hari ini.
Saat SMP dan SMA, mostly teman yang aku temui di sekolah berlanjtu. Bahkan bbeberapa sampai ke bangku kuliah. Hubungan yang pernah ada itu terus kami bbina, bahkan aku pun terus belajar untuk menerima bahwa people are changing dan aku harus siap dengan segala perubahan dari sebuah kepribadian yang dulunya aku merasa sudah sangat dekat dan mengenalnya. Sometimes it hurts me a lot, but slowly I learn to cope with that. Sebutlah beberapa nama yang ada di hati: Nuniek, Ciciel, Weny, Tris, Karina, Mia, Yunisha, Ervin, Lili, Santi, No'e, Dian, dan masih banyak lagi yang lain.
Aku bersyukur, beberapa teman wanita terbaikku dari masa kecil, sekolah, kuliah, masih ada di sisiku sampai dengan hari ini. Saat kehidupan ini berada dibawah, mereka selalu ada untuk mengangkatku dengan kata-katanya yang menguatkan, telinganya yang siap mendengarkan, empatinya, dan juga waktu yang berikan untuk tersenyum dan menjawab bbm, sms dan telpon.
Tulisan ini aku dedikasikan untuk sahabat-sahabat wanitaku yang luar biasa, dan aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote indah yang aku temukan dari hasil googling:
"Friendship among girls evolves over a long stretch of time. But once friends, they stick to each other through thick and thin. It helps to have a shoulder to cry on when the first crush or love is lost, it also helps to unburden oneself with the "girlie" talk."
Subscribe to:
Posts (Atom)






















