Namanya Fitrie, usia 16 tahun, asal Lampung Utara, suku Jawa. Dia adalah pembantu ke sekian yang bermasalah di rumah setelah 3 bulanan bekerja di rumah kami. Fitrie dibawa oleh Mbak Isah, pembantu yang dulu lama ikut kami dari Jonathan kecil sampai akhirnya lulus TK. Mbak Isah mengundurkan diri dari rumah kami karena menikah dengan Ade, sopir yang dia kenal saat masih ikut anter jemput Jonathan ke SKK. Semenjak mbak Isah menikah kami masih ada Teteh Maya yang membantu sampai lebaran. Teteh Maya tidak balik kembali ke rumah setelah lebaran, nggak tau alasannya apa. Karena itulah akhirnya Fitrie dari lampung ke rumah kami untuk bekerja.
Awal-awal Fitrie bekerja di rumah kami mulai terlihat bahwa kemampuannya jauh dibawah Mbak Isah. Ya memang Fitrie masih anak-anak, tapi aku ingat sekali waktu Mbak Isah bekerja pertama kali di rumah kami juga dia masih seumuran Fitrie, cuman sepertinya nggak seperti itu. Banyak hal yang Fitrie lakukan dan membuatku naik darah. Aku mencoba menasehatinya dengan baik dan lembut, tetep aja ndableg...lama-lama aku kasar, juga sama. Hadeeeuhhh pancen tambeng, kata orang Jawa!
Belakangan Fitrie juga mulai suka bohong dan memakai barang-barang kami yang bukan miliknya dan belum pernah kami berikan ke dia. Jujur penat banget punya pembantu seperti Fitrie, namun karena butuh aku coba pertahankan sampai akhirnya 2 hari yang lalu aku sudah tidak tahan lagi dan langsung mengusirnya dari rumah. Fitrie aku dapati mengambil bebrapa barang pribadiku, Ruth dan juga Jeff, disembunyikan di lemari pakaian dia, di tas bawaan dia, semua perlahan teratur rapi sedikit demi sedikit. Aaarrggghhh...daripada makin lama makin nggak bener, hari Selasa malam aku langsung mengusirnya dari rumah saat itu juga. Malam itu Fitrie pergi ke rumah Mbak Isah di dekat kompleks Polri. Aku sebetulnya nggak enak juga dengan Mbak Isah, selama ini hubunga kami sudah sangat baik, semua jadi rusak karena perbuatan adiknya. Mbak Isah sempet bicara denganku di telpon dan nangis-nangis, tapi aku sudah tidak bisa merubah keputusanku. Dari pada aku memilihara pembantu yang "sakit" dan nantinya berpengaruh buruk terhadap anak-anak lebih baik dari sekarang aku singkirkan benalu itu dari dalam rumah.
Saat aku beberes kamar Fitrie kemarin, aku menemukan buku notes koleksi Ruth yang dia pakai untuk menjadi diary dia. Ada 2 buku, dan perlahan satu persatu aku baca. Aku membaca tulisan Fitrie dengan geleng-geleng...aarrgghhhh anak ini benar-benar sakit. Usia baru 16 tahun isi dari curahan hatinya cuman masalah percintaan, perselingkuhan.....astagaaa...ada beberapa lembar yang dia tulis mengenai keluarganya di Lampung tapi semua itu isinya cacian dan dendam kepada keluarganya. Aku mencoba mencari tulisan mengenai diriku yang suka ngomel kepadanya, tak ada satupun. Bahkan dia masih memilih ikut aku daripada harus pulang ke kampungnya di Lampung Utara. Pakai bersumpah segala nggak akan pernah pulang ke Kampung dan kembali ke orang tua dan keluarganya. Alamaaakkk ini anak benar-benar "sakit."
Aku sudah menutup lembaran buku-ku tentang Fitrie. Sudah tidak ada amarah lagi tentang dia. Sudah aku ampuni dan aku doakan semoga dia nanti kedepannya lebih baik. Tadi pagi mendengar kabar dari Adon bahwa Fitrie waktu ke rumah Mbak Isah tidak mau tidur di dalam rumah, dia memilih tidur di luar. Saat ini aku tidak tau keberadaan dia dimana. Semoga dia baik-baik saja dan tidak menempuh jalan yang kurang baik.
Aarrgghhh...awal tahun sudah dimulai dengan sesuatu yang membuat pening, semoga saja ke depannya akan lebih baik lagi, Aamiin. Sekarang tinggal masalah mencari pembantu pengganti untuk anak-anak. Hari ini sudah ada Mbak Ipah yang pulang hari. Ya lumayan mbak Ipah mau datang jam 6 dan bekerja sampai jam 4 sore di rumah. Semoga saja Mbak Ipah bekerja dengan baik dan juga sekalian bisa membantu mengawasi anak-anak sambil aku mencari yang permanen dan menginap. Makasih banget untuk Oma yang sudah bersedia untuk datang dan ikut mengawasi anak-anak dan juga Mbak Ipah. We love you, Oma Vien!
Thursday, January 26, 2012
Tuesday, January 24, 2012
Long weekend, 21 - 23 January 2012
Long weekend yang baru saja terlewati kami lalui dengan tenang, nyaman dan happy di rumah sajah. Kami nggak banyak bepergian. Hari Sabtu di rumah saja, Jeff pijet, aku sepagian masak. Ruth dan Jo sibuk main sendiri. Setelah makan siang, aku dan Ruth pergi ke Nuansa Bali Spa di Legenda Wisata, masih satu kompleks. Waaahhh enak banget bisa "me time" bareng anak wedok. Relax sekali rasanya habis pijat, luluran trus creambath. Sesekali mengeluarkan Rp 500,000 untuk 3 jam bersama Ruth di salon terasa worthed sekali....dan usai perawatan aku tanya ke Ruth apakah dia menikmatinya? Dengan mantap dia menjawab ya dan mau banget di kemudian hari kami berdua mengulangnya kembali hehehehehe....sweetttttt!
Pulang dari nyalon kami keluar makan malam ke Kota Wisata. As usual ke Fresh Market aja dan makan di angkringan nasi kucing. Sebetulnya angkringan nasi kucing Fresh Market Kowis nggak seenak Legenda Wisata. Alasan kesana kemarin karena Jonathan tadinya pengen nasi goreng, ya sudah kami ke Kowis tapi ternyata dia berubah pikiran begitu sampai di tempat, hehehehe....pulang dari makan malam mampir Alfa Midi sebentar trus pulang. Sampai rumah kami nggak langsung tidur. Waktu di Alfa Midi, Jeff beli kartu dan gaple, langsung deh kita ber-4 main kartu hehehehe...seru banget ternyata main kartu sama anak-anak!
Keesokan harinya kami seperti biasa ibadah ke gereja. Pas ada donor darah, jadi usai ibadah kami ikutan donor darah dulu. Jadi pendonor darah aktif memang bikin tubuh lebih fit karena tubuh terus memperoduksi sel-sel darah baru secara rutin. Seperti biasa habis donor darah badanku enakan rasanya. Entah sugesti atau apa, tapi pegel-pegelnya ilang, walaupun sekarang nongol lagi pegelnya, hahahahaha.....Minggu siang kami napping dan nyante aja di rumah. Malemnya dinner di Burger King trus lanjut belanja ke Giant. Kami beli beberapa barang yang sudah habis persediaan sekaligus nyicil beli sumbangan untuk kunjungan Komisi Remaja Gereja ke Panti Asuhan. Pulang dari Giant, sebelum tidur...kami main kartu lagi! hehehehe....
Senin pagi, 23 January 2012, hari Raya Imlek, liburr....aku yang tadinya mau bangun siangan malah akhirnya pagi karena terusik sama Jeff yang rajin banget bangun pagi hehehehe....akhirnya aku ngintil dia untuk beli sarapan ke Bang Udin si tukang ketoprak. Bang Udin ini, ketopraknya memang enak, cumannnn kalau soal harga nggak konsisten. Klo lagi rame, seenak udel naikin harga, hadeeuuhh.....biasanya Rp 8,000 seporsi lagi rame bisa jadi Rp 9,000. Males debat kusir ya sutralah bayar ajah!
Seharian aku masak dan kami memilih diam di rumah. Aku mengikuti perkembangan traffic dari twitter Polda Metrojaya. Seperti tahun-tahun yang lalu tiap kali Imlek ribuan orang akan menyerbu Kampung Cina di Kota Wisata. Jujur aku bingung....mau liat apaan siyyy di Kampung Cina Kota Wisata??? Sueerrr itu tempat gak ada apa-apanya. Cuman ada warung-warung jual pernak pernik Cina, koko cici juga gak banyak, mostly yang dagang orang Betawi, ruwet lha iyaaa.....klo cuman mau liat Barongsai, tiap Sabtu sore juga ada.....masalah bagi-bagi angpao itu semua hoax...hadeeuuhhhhhhh! Asli geregetan sebetulnya. 3 tahun yang lalu kami pernah kejebak padatnya traffic Kampung Cina masa Imlek dan semenjak itu kami tidak mau lagi mengalami hal yang sama. Makanya milih di rumah aja. Cuman kemarin itu adalah the worst traffic ever!!! Sampai jam 9 malam saat kami coba keluar kompleks beli sate ayam pun masih lohhh padeetttttt! Astagaaaaaaa.......gak tau deh apa yang ada di pikiran para pengunjung Kampung Cina itu!
Hari ini back to work and as usual tentunya berat banget mata ku untuk melek hihihihi....oh ya saat liburan Imlek kemarin aku sempet baking lagi. Bikin muffin pake bubur oatmeal di lemari es yang belum kemakan. Cemplang cemplung jadinya empuks dan enak juga hihihihi....baking is always fun!
Wednesday, January 18, 2012
Hotel Review - The Ritz Carlton Jakarta
Hasil pengalaman tinggal di beberapa hotel, membuatku ingin menulis review pribadi mengenai beberapa hotel yang pernah kami singgahi. Untuk memoir dan juga semoga berguna bagi pembaca blog ini.
The Ritz Carlton Jakarta. Weekend yang lalu tepatnya tanggal 14 January 2012, kami sekeluarga mendapatkan kesempatan menginap secara gratis yang mungkin untuk terakhir kalinya di hotel ini. Yup hasil kerjaku sebagai Executive Secretary selama di DHL membuat kami sekeluarga bisa menikmati kemewahan menginap secara gratis di hotel berbintang lima di Jakarta dan beberapa daerah lainnya. Khusus untuk di Jakarta ada the Ritz Carlton Jakarta, The Ritz Carlton Pacific Place, dan Mulia Hotel.
Untuk the Ritz Carlton Jakarta and The Ritz Carlton Pacific Place, mereka mempunyai program yang disebut sebagai ERS (Earn Reward System) untuk setiap booker. Sebagai seorang Secretary salah satu pekerjaanku memang sebagai booker. Jadi setiap kali aku melakukan booking kamar di hotel the Ritz Carlton Jakarta maka aku akan mendapatkan point sesuai dengan jenis kamar yang di booked. Point diperoleh setelah tamu melakukan pembayaran dan check out untuk setiap pemesanan kamar. Selain point dari kamar juga ada point dari banguet untuk setiap event yang bookingnya dilakukan oleh booker yang bergabung dengan ERS program. Setiap kelipatan 1 juta (exclude tax) maka akan dihitung sebagai 1 point.
Lumayan juga hasilnya, selama 9 tahun lebih bekerja di DHL Express Indonesia bisa dibilang lebih dari 5x aku bisa menukarkan point yang aku peroleh dengan fasilitas free room nights untuk dinikmati bersama keluarga. Berhubung aku sudah resign dari DHL Express dan bergabung dengan Darya Varia Laboratoria, dimana the Ritz Carlton Jakarta bukan lagi sebagai appointed hotel, maka pengalaman weekend yang lalu benar-benar aku nikmati dan aku abadikan. Karena BB ku rusak, aku nggak bisa leluasa mengabadikan setiap moment atau setiap sudut dari hotel ini, tapi lumayan juga beberapa titik penting yang selalu membuatku terkesan dengan hotel ini berhasil aku abadikan.
The Ritz Carlton Jakarta terletak di Jl. Lingkar Mega Kuningan Kav. E11 No. 1, Mega Kuningan, Jakarta. Tahun 2002 saat mereka grand opening, kesan yang aku tangkap adalah, "hwwwaaahhhhh!!!" Kemewahan dan pelayanan no. 1 benar-benar diterapkan. Pengalaman dan kesan pertama kali menginap di hotel ini pun membuatku tertegun kagum dan sedikit fanatik karena menganggap hotel ini adalah the best in the city. Weekend kemarin jujur saat aku melakukan check-in kemudian tinggal di kamar yang biasa kami pesan, ada sedikit rasa sedih, mengapa??
Pertama, aku mengenal hotel ini sejak hotel ini berdiri dan launch di Jakarta. Di hotel inilah aku bertemu dengan Sales people nya yang ramah very helpful dan ended up sampai hari ini kami masih berteman baik walaupun masing-masing sudah tidak ada hubungan bisnis lagi. Kalau boleh aku sebut nama, Posma, Lucy, Wilmar, Siany, bahkan Walid Birak sang Sales Director. Saat aku melangkahkan kaki ke counter front desk untuk check in, aku melihat banyak wajah baru. Dulu tidak demikian, selisih 2 tahun pun front desk nya masih sama. Kemudian ke counter concierge, aku kehilangan wajah dan sosok yang selama ini selalu menyapa ramah: "Welcome back Mbak Dewi..." yup...Hadi, I missed him! Berita terakhir aku dengar Walid Birak pindah ke Four Season Hotel, Posma memang sudah lama resign, disusul Lucy, Wilmar...Walid, Albert...sepertinya semua orang yang aku kenal baik di the Ritz Carlton Jakarta sudah hengkang dari hotel ini. Gonjang ganjing mengenai kisruh di management internal the Ritz Carlton Jakarta memang sudah lama sekali aku dengar dan jujur aku sedih mendengarnya. Anyway...
Setelah melakukan check in pada pukul 12-an siang, ternyata kamar yang kami pesan belum ready. Aku requested twin bed room untuk type Grand Room, dan masih dalam kondisi kotor belum siap. Akhirnya untuk menunggu kami dipersilahkan ke kamar 1009 dulu. Naiklah kami ke 1009, king size bed room. King size bed room di the Ritz Carlton Jakarta ini besar, mungkin ukuran bed nya sekitar 240x240, lebih luas dari king size standard di Indonesia. Aku melihat ke sekeliling ruangan yang masih sama. Untuk king size bed ada tambahan sofa kecil persis di depan tempat tidur, bedanya sama twin bed room. Welcome fruits masih sama. Type Grand Room adalah type kamar terendah yang ada di the Ritz Carlton Jakarta. Sudah aku check sana sini, type Grand Room di the Ritz Carlton Jakarta masih the largest standard hotel room in the city. Luas kamarnya 680 square feet, very spacious baik untuk bagian bed room dan bath room.
Akhirnya setelah menunggu sekitar 3 jam, jam 3 sore lebih sedikit seorang Guest Relation Office, Natasha, menemui kami dan mengantar kami ke kamar 1812, twin bed room, sesuai pesanan. Anak-anak tampak riang kembali ke ruangan kamar di the Ritz Carlton Jakarta yang selama ini sangat familiar untuk mereka. Untuk type twin bed room, biasanya kami ditaruh di lantai 12 atau 16, kali ini adalah kamar di lantai tertinggi yang pernah kami diami. Kenapa kami senang di twin bed room? Karena twin bed room nya the Ritz Carlton Jakarta ini bed nya spacious banget. Each bed luasnya 200x200 - ukuran king size bed Indonesia. Untuk kami ber-4 tentu saja super nyaman hehehehe....di hotel ini tidak disediakan extra bed. Jadi klo pengen tidur nyaman tapi jumlah orangnya banyak ya harus memesan lebih dari 1 kamar. Untungnya twin bed room mereka very spacious, nyaman untuk ber 4, orang dewasa sekalipun.
Twin bed room di the Ritz Carlton Jakarta memang gak banyak jadi klo pun pindah lantai view nya ya disitu-situ aja. Dan terus terang aku sangat menikmati view yang ditawarkan oleh Grand Room di twin bed room. Selalu menghadal ke The East Building, Menara Dea, dan Bellagio. Beberapa kali kami mendapatkan pemandangan sunset yang spectacular dari sini. Sayangnya kemarin musim hujan, dapetnya mendung aja terus hehehehe...tapi malam hari dengan banyak lampu dari gedung-gedung Jl. Gatot Subroto pun tampak mempercantik view dan suasana yang ada.
Ketika kami datang, ada special gift dari the Ritz Carlton Jakarta untuk anak-anak karena kamar kami belum ready pada saat kami datang. Kalau dulu kami pernah mendapatkan welcome gift berupa beruang teddy untuk Ruth dan hat untuk Jonathan, kali ini 2 buah T-Shirt berwarna orange terang yang cantik. Mereka juga provide 2 cute slippers for kids. Dulu kami pernah dapet 1 child slipper untuk Jonathan, kali ini mereka provide untuk Ruth berwarna pink dan Jonathan berwarna biru. Walaupun ukuran kecil tapi anak-anak sangat senang, dan kami appreciate sekali untuk semua perhatian mereka.
Saat mandi sore, aku menyadari ada yang berbeda lagi. Kali ini The Ritz Carlton Jakarta juga memberikan amenities yang berbeda. Ada extra buble bath untuk anak-anak, satu aroma strawberry dan satu lagi aroma melon. Jenis amenities aku teliti satu persatu dan aku tertegun sejenak....Amenities beda! Yup, aku dianugerahi penciuman dan daya ingat akan penciuman yang cukup tajam dan sensitif. Saat aku cium bau aroma moisturizer, sabun dan shampoo ada sedikit rasa kecewa...down grade! They are no longer using products from Bulgary! Masih teringat jelas aroma product bulgary yang segar dan classy. Kali ini terasa plain and cheapo for me, nggak masuk kelas the Ritz Carlton lah. Yup tahun lalu terakhir kami menginap di the Ritz Carlton Jakarta kami masih menikmati amenities product dari Bulgary, sekarang nggak lagi. Awal mereka launched, di kamar mandi disediakan garam mandi, 2 tahun terakhir nggak lagi...tahun lalu masih ada timbangan badan di setiap kamar mandi untuk type Grand Room, tahun ini gak ada lagi. Semua perlahan down grade. Inikah salah satu yang menyebabkan banyak sales dari the Ritz Carlton Jakarta hengkang??? Namun, aku masih tersenyum saat melihat Frezza mouth wash masih mereka sediakan. Mouth wash inilah yang membedakan the Ritz Carlton Jakarta dengan hotel bintang 5 yang lain di Jakarta. Seingatku hanya the Ritz Carlton Jakarta yang menyediakan mouth wash sebagai salah satu amenities nya untuk type standard room.
Hari minggu pagi saat kami sarapan di Asia Restaurant, ada sedikit kekecewaan juga akan mutu makanan yang mereka sediakan. Jenis sarapannya sedikit dan mungkin juga karena kami terlalu sering berkunjung ke hotel ini, semuanya terasa biasa saja. Kemarin plain saja...kami sarapan karena memang butuh, no excitement at all. Aku sarapan nasi putih + daging bulgogi yang diambil dari Korean section plus sepiring salad, itu saja. Anak-anak mengambil harsh brown + bacons, Ruth nambah sedikit nasi goreng. Jeff mengambil sedikit nasi goreng, bacon dan grilled beef and veggies. We didn't eat much during breakfast.
Usai breakfast, Jeff kembali ke kamar untuk bekerja dan belajar, aku dan anak-anak ke kolam renang. Jonathan sudah sangat excited membayangkan segarnya jeruk manis yang disediakan bagi para tamu yang menginap yang disajikan kepada setiap tamu yang berenang. Sayang sekali ketika kami tiba disana, compliment jeruk itu sudah hilang dari peredaran juga. Jo terlihat kecewa, dia masih ingat lezatnya potongan jeruk sunkist import yang pernah dia nikmati saat berenang di swimming pool the Ritz Carlton Jakarta. Ahh sudahlah dek, nanti kita beli sendiri hahahahaha.....yup gambar diatas adalah gambar jeruk yang tahun lalu masih disediakan oleh the Ritz Carlton Jakarta sebagai complimentary tamu menginap yang berenang, saking lezatnya sampe aku foto hahahaha....kolam renang nya masih tetap sama gak ada perubahan berarti.
Usai berenang, anak-anak memilih untuk makan siang di dalam kamar. Mereka minta aku memasakkan pop mie yang kami bawa dari rumah. Aku dan Jeff turun kembali ke Asia Restaurant untuk makan siang dengan fasilitas free Sunday Brunch certificate. Pilihan Brunch tentu saja lebih beragam daripada saat breakfast karena harganya juga jauh lebih mahal. Aku memilih sop buntut, 1 buah soft pretzel dan sepiring salad. Jeff juga gak makan banyak. Dia hanya mengambil sop Bakut dan sepiring pasta. Dessert aku mengambil secuil apple crumble, dan Jeff ice cream 1 scoop, udah itu sajah. Kami tidak menjamah makanan lain seperti bebek, grilled chicken and beef, etc... Entahlah kami sudah tua atau apa, sudah malas dan tidak lagi menikmati hidangan buffet seperti tahun-tahun yang lalu. Makanya klo bukan gratisan males banget makan buffet, too much! Bagaimana dengan rasa? Ehm....kalau bayar sendiri, janganlah makan di Asia Restaurant the Ritz Carlton Jakarta, hahahahaha...this is our own opinion lho yaaa....not that good, not value of money. Gratisan monggo sajah, seperti kami ini hehehehe....
Kami check out dari hotel jam 3 sore, yup thanks a lot to the Ritz Carlton Jakarta yang memberikan kami fasilitas late check out sampai dengan pukul 3 sore. Puas rasanya weekend kemarin. Dan untuk mendapatkan free parking selama menginap di hotel ini, jangan lupa upon your arrival register your plat number to the concierge.
Over all, hotel ini masih cukup OK. Dari sisi kamar, menurutku masih yang paling nyaman compare to other hotels di Jakarta karena memang masih the largest. Untuk service masih cukup bagus, hanya saja untuk beberapa hal ada down grade yang sedikit membuat kecewa. Kalau harus bayar sendiri dan tinggal di hotel ini, mungkin saya akan say NO. Kalau bayar dari kantong sendiri saya lebih suka jenis resort daripada city hotel yang kaku dan boring hehehehe....Hope to see you again in the future the Ritz Carlton Jakarta *nunggugratisanduluyak* ;-)
Monday, January 16, 2012
Blackberry Saya OFF - RUSAK!
Yaaa itulah kenyataannya saudara-saudara, saya lagi ndak punya Blackberry. BB (Blackberry) Gemini taun jebot yang udah 3 tahun setia menemani saya ketetesan air hujan karena ruang tamu bocor, ya sudah lah nasib. Yang saya sesalkan bukan karena nggak bisa bbm-an lagi atau FB or Twitter, tapi saya belum back up apapun jadi ilang semua datanya kecuali photo yang udah ke back-up huwaaaa *tangisangero-gero*
Berita dari Mas Seno yang dengan baik hati sekali mau datang malam-malam ke rumah demi menolong adik tercinta yang tak tau diri bin gaptek, katanya semua data di BB saya bisa diselamatkan, dan bisa dipake lag. Cuman saya belum ada waktu mampir ke rumah Mas Seno di Citragan untuk ngambil, jadi ya biar sajah. Sementara ini saya hidup nebeng Nexian Ruth hihihihi..... Weekend tanpa BB lebih tenang rasanya, cuman sekarang mulai kangen karena ada beberapa hal seperti Tweeter dan Facebook, hihihihi...kok udah nyandu klo gak ngintip sehari gimana gituh, untungnya belum sakaw hahahaha...
Ya memang aku harus nurut sama Jeff untuk membedakan antara data dan voice. Ini lagi kontak sana sini untuk back up no telpon. Duuhh mumet banyak banget yang raib huhuhuu....effortnya segambreng deh niyy....ulang dari awal lagi. Wes gak papa lah, salahnya sendiri!.
Berita dari Mas Seno yang dengan baik hati sekali mau datang malam-malam ke rumah demi menolong adik tercinta yang tak tau diri bin gaptek, katanya semua data di BB saya bisa diselamatkan, dan bisa dipake lag. Cuman saya belum ada waktu mampir ke rumah Mas Seno di Citragan untuk ngambil, jadi ya biar sajah. Sementara ini saya hidup nebeng Nexian Ruth hihihihi..... Weekend tanpa BB lebih tenang rasanya, cuman sekarang mulai kangen karena ada beberapa hal seperti Tweeter dan Facebook, hihihihi...kok udah nyandu klo gak ngintip sehari gimana gituh, untungnya belum sakaw hahahaha...
Ya memang aku harus nurut sama Jeff untuk membedakan antara data dan voice. Ini lagi kontak sana sini untuk back up no telpon. Duuhh mumet banyak banget yang raib huhuhuu....effortnya segambreng deh niyy....ulang dari awal lagi. Wes gak papa lah, salahnya sendiri!.
Friday, January 13, 2012
Lagi Ngantuk Melulu, Gak Kreatif, Otak Macet
Uurrggghhh.....kemarin sudah pengen nulis sesuatu disini tapi kok gak bisa lanjut, apalagi tulisan pake otak, soal my own opinion regarding Jakarta's traffic. Duuhh sepertinya aku butuh istirahat total deh, badan rasanya nggak fit 100%, seperti ada kelelahan luar biasa, butuh tidur 2 x 24 jam! hahahahaha...
Terpaksa tulisannya ditunda dulu dan sekarang curhat aja. Isi curhatnya aku ngantuk, perlu tidur, pijet badan, creambath...tapi gak bisa, huhuhuuu....*tangisan bombay.* Hari ini harus bertahan sampai jam 5 + nyetir ke Cibubur, mudah-mudahan nggak semacet kemaren huhuhuuu....habis itu tak tidur cepet deh, besok pagi baru packing untuk pindah nginep ke tengah kota semalem.
Terbayang semua keindahan dan keceriaan waktu libur akhir tahun yang lalu huhuhuuu....*tangisanlagi* Kenapa siy cuman sebentar liburannya?? 2 minggu baru puas sepertinya! Mudah-mudahan nanti akhir tahun bisa berlibur selama 2 minggu lagi, aamiin.
Ya udah ya diary, segini dulu...rasanya aku lebih memilih bantal, kasur, guling dan selimut daripada dirimu, hiks hiks hiks....
Monday, January 9, 2012
Kamu pake bedak wajah apa??
Bedak memang tidak bisa lepas dari kehidupan hampir sebagian besar wanita. Dari bayi kita sudah kenal bedak, sampai ada bedak bayi yang sering dipakaikan ke sekujur tubuh bayi (kecuali anak-anakku hehehehe....). Kemudian saat mulai beranjak remaja, perempuan mulai genit-genit ke sekolah harus bedakan dulu, sampai akhirnya 20 tahun belakangan ini mulai muncul berbagai jenis produk bedak dan kosmetik untuk anak remaja, karena pasarnya sudah semakin meluas.
Aku inget jenis bedak apa aja yang aku pakai saat kecil. Bayi tentunya bedak bayi lah, dan sampai SD aku masih pake bedak bayi ini, merknya ganti-ganti antar Switzal dan Johnson & Johnson. Aku pakai bedak yang sama untuk tubuh terutama ketiak, hihihihi...dan wajah. Dulu belum kenal rexona hahahaha....Kemudian kira-kira kelas 5 SD, aku kenalan sama bedak merk Amami. Ada yang pink, biru, hijau dan kuning. My fav Amami pink dan biru, sometimes hijau is okay as well, aku pakai bedak ini sampai SMA, belum berani pake parfume, nggak punya duit hihihihi..... Bedak Amami sekarang udah nggak pernah ngliat lagi, duh sudah punah tampaknya si Amami ini, baca-baca di internet udah discontinued lama, wedewww...padahal enak juga lho aromanya, harum dan lembut.
Mulai kuliah di CEB, ya namanya juga sekolah calon sekretaris mau nggak mau wajah kagak bisa dipakein bedak talk putih doang...akhirnya ngumpulin uang saku mulai deh belanja kosmetik. Pelembabnya Sariayu aja, pembersih wajah Viva trus sempet ganti Marina, ya sekitaran yang murmer aja, sesuai dengan kantong cupetku, dan untuk urusan bedak, pernah nyoba bedak Sariayu kok kuning bener, akhirnya beli produk Belia dari Martha Tilaar. Bedak ABG tapi kok nempel bagus di aku dan cucok ya sudah itu saja. Aku pake bedak ABG ini sampai lulus kuliah dan kerja hihihihi...dan sekarang loose powder Belia ini pun sudah tidak di produksi lagi oleh Martha Tilaar, mereka cuman punya product compact powder saja. Ehm...udah nggak ngetrend kali ya pake loose powder. Padahal menurut para dokter kulit, lebih baik pakai loose powder loh daripada yang compact, ke kulit wajah lebih sehat. Anyway....
Suatu ketika bedak Belia ku habis, nyari-nyari agak susah nggak nemu. Dari kuduk bedak pilihanku selalu warna transparant, ngga berani warna lain klo pilih warna lain rasanya tebel benerrr aku merasa nggak nyaman. Saat udah desperate nyari bedak Belia transparant nggak nemu, mataku tertuju ke bedak Marcs. Yup, itu bedak dipake Mama sudah dari jaman dahulu kala dan aku kadang sesekali juga minta ke Mama klo lagi males pergi ke kamar sendiri. Akhirnya aku putuskan beli bedak Marcs yang murmer itu. Eeehh...cucok sajah...dan keterusan terus sampai bertahun-tahun kemudian, bahkan aku bawa bedak ini ke Amrik lohhh jangan salah. Aku bawa 2 setaun di Amrik masih nyisa hehehehe....aku biasa pake yang creme.
Pulang ke Indonesia aku langsung kerja, nganggur cuman sebentar doang. Dan untuk urusan wajah aku masih setia dengan bedak Marcs sampai aku nikah harus beli seperangkat kosmetik untuk seserahan. Mosok bedak seserahannya Marcs, kan nggak lucu. Akhirnya aku beli seperangkat Caring & Biokos. Dari situ aku mulai beralih ke Caring compact powder. Aku pakai caring compact powder cukup lama.
Setelah punya anak, belakangan mulai kenalan sama Oriflame. Mulailah aku coba pake Oriflame. Pada dasarnya aku kurang suka dengan bedak compact, setelah kenal Oriflame aku balik ke bedak tabur. Aku pakai airsoft powdernya Oriflame yang sangat ringan dan nempel halus di kulitku. Sayang sekali produk ini kemudian discontinued pulang. Duuhh gregetan setangah mati deh di akhir tahun 2011 begitu tahu bedak kesayanganku di diskontinue sama Oriflame.
Akhirnya balik lagi ke Caring, cuman kali ini aku beli yang tabur. So far okay saja. Memang wajahku nggak terlau rewel, jarang jerawatan kecuali setelah digempur sama produk Collagen-nya Oriflame yang langsung keluar jerawat batu, huhuhuuu.....tangisan bombay deh.
Weekend kemarin karena satu dan lain hal aku harus bedak lagi karena beauty case ku ketinggalan di laci kantor! Mosok Sabtu dan Minggu nggak pake bedak, huhuhuuuu ogaaahh.....mikir-mikir beli Caring lagi paling nggak harus ke Giant or Matahari, rempooonggg.....so akhirnyaaa.....aku bali lagi ke Marcs! hahahahahaha...bedak satu ini emang paling handy, gampang dicari, murah lagi. Disaat kepepet, aku tetep pede walaupun cuman dipoles pake bedak Marcs wkwkwkwkwkwkwkwk.....apalagi aroma bedaknya banyak membawa nostalgia jaman mudah, halah! Ada kenangan tersendiri dengan aroma bedak ini, jadi kayak semacam aroma theraphy, lebay.com!
So, kamu sendiri pake bedak wajah apa??
Thursday, January 5, 2012
Komik Wayang karangan R.A. Kosasih
Masa kecil di Karang Ali, aku ingat sekali sering main ke rumah temanku yang bernama Suryo. Di rumah Suryo dia punya koleksi wayang karangan R.A. Kosasih secara lengkap. Sering pulang sekolah dan habis makan siang aku ke rumah Suryo dan langsung ngejonggrok asyik membaca komik-komik wayangnya dan melalapnya sampai habis.
Sudah cukup lama aku berkeinginan untuk punya koleksi komik wayang lagi. Senang aja membaca kisah wayang yang sudah sangat melekat dengan budaya orang Jawa pada khususnya. Kebetulan sekali Ruth dan Jo tertarik dengan cerita wayang juga. Mereka familiar dengan tokoh Krishna.
Pada waktu liburan akhir tahun di Jogja kemarin, kami sempat mampir ke Toko Buku Gramedia di Ambarukmo Plaza. Dan disana Jeff membelikan komik wayang seri Mahabharata untuk Ruth. Minggu lalu aku lalap habis ketiga komik yang dibelikan Jeff dan aku merasa kurang puas bahkan agak kurang suka dengan gaya bahasa yang dibawakan. Ya, aku lebih terbiasa dengan karangan R.A. Kosasih sedangkan yang kemarin di beli, entah aku sendiri lupa dengan nama pengarangnya. Yang aku amati ada sedikit perbedaan alur cerita dan tokoh yang disampaikan oleh R.A. Kosasih dengan pengarang ini tadi. Karena hanya 3 buku pastinya belum mencakup keseluruhan cerita secara langkap. Aku semakin penasaran.
Dua hari yang lalu aku browsing di internet dengan kata kunci komik wayang Mahabharata dan akhirnya menemukan sebuah blog yang membahas mengenai hal ini. Koleksi komik wayang karangan R.A. Kosasih diterbitkan oleh Toko Buku Maranatha di Bandung yang mempunyai agen di Jakarta. Disini kalau mau lihat blog yang membahas mengenai Toko Buku Maranatha di Bandung, surganya penggemar komik wayang. :-)
Dari blog tersebut aku menemukan informasi lengkap untuk no telpon juga agen di Jakarta yang bisa dihubungi. Akhirnya akupun memutuskan untuk membeli koleksi komik wayang Mahabharata via online karena malas untuk pergi ke Plaza Semanggi. Aku segera register ke www.anelinda.com dan semua transaksi via e-banking. Dalam waktu 2 hari dari tanggal pemesanan akhirnya aku menerima koleksi komik wayang seri Mahabharata lengkap yang aku idam-idamkan.
Bagi yang ingin menelpon langsung ke Toko Buku Maranatha, berikut no. telponnya: 022-5203188.
Senang sekali rasanya kami sekeluarga bisa menikmati bersama buku komik seri Mahabharata. Kemarin bukunya datang, anak-anak langusng excited untuk membacanya, termasuk Aaron, tetangga sebelah yang sedang bertanang ke rumah.
Kalau sudah selesai baca aku ingin membeli seri cerita wayang yang lain. Sekarang tiap hari pengennya cepet pulang dan baca cerita komik wayang deh hehehehehe....andaikan bisa seperti Ruth dan Jo yang libur, bisa cepet kelar tuh 4 buku hihihihi....
Subscribe to:
Posts (Atom)




















